Pages

Tuesday, August 14, 2018

Bangun Pembangkit Listrik Berbasis EBT, Terregra Asia Investasi 1 Miliar Dolar AS

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA) tengah menggenjot pembangunan proyek pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan nilai investasi 1 miliar dolar AS. Ekspansi tersebut diharapkan akan menghasilkan profit hingga 60 juta dolar AS pada 2023.

Wakil Direktur Utama PT Terregra Asia Energy Tbk, Lasman Citra, mengungkapkan Indonesia punya potensi sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) sangat besar. EBT juga disebut energi masa depan, lantaran energi berbasis fosil dipastikan bakal habis. Tak heran, pihak asing pun tertarik masuk ke bisnis renewable energy di Indonesia seperti dilakukan oleh TGRA.

Bagi Lasman, ketertarikan asing pada renewable energy di Indonesia sangat wajar. Dengan potensi besar yang belum dimanfaatkan maksimal, kehadiran banyak pemain akan mendorong pemerintah untuk juga fokus mendorong regulasi pro renewble energy sehingga ujungnya menggerakkan investasi.

Meski begitu, kata Lasman, pemanfaatan potensi sumber EBT belum dilakukan secara masif. Regulasi yang belum berpihak, ditambah biaya investasi yang dianggap masih mahal menjadi kendala utama.

Toh, bagi TGRA, kendala itu tak menghalangi perusahaan terus ekspansi. Asal tahu saja, di bisnis elektrifikasi, Terregra bukanlah pemain baru. Kata Lasman, TGRA awalnya bernama PT Mitra Megatama Perkasa (MMP) yang bergerak sebagai rovide maintenance untuk power plant yang ada di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

"Kami memasok spare parts, operating maintenance untuk Pembangkit Tenaga Diesel (PLTD) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)," kata Lasman, kepada media, Selasa (14/8).

Seiring waktu, proses transformasi terjadi di tahun 2010, MMP yang berubah nama jadi Terregra, kemudian melakoni bisnis Independent Power Producer (IPP) yang fokus pada pengembangan dan pemanfaatan sumber energi baru terbarukan (EBT).

Dalam melakoni bisnis IPP berbasis EBT, Terregra fokus pada pengembangakan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hydro dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atau solar power.

Kata Lasman, pilihan itu bukan tanpa dasar. Pasalnya potensi hydro di Indonesia yang ditaksir mencapai bisa menghasilkan listrik hingga 75.000 MW. Sementara untuk PLTS, per meter perseginya bisa menghasilkan hingga 4,8 kilo watt hour (KWH).

Apalagi teknologi hydro dipandang bukan sesuatu yang baru. Indonesia bahkan sudah punya PLTA sejak zaman Belanda dan hingga kini masih berfungsi baik.

Let's block ads! (Why?)

http://www.tribunnews.com/bisnis/2018/08/14/bangun-pembangkit-listrik-berbasis-ebt-terregra-asia-investasi-1-miliar-dolar-as

No comments:

Post a Comment